ALAK Soroti Dugaan “Bisnis Uang Baru” di BI Lampung, Desak Evaluasi Pimpinan dan Manajemen

Bandar Lampung (B+62) – Aliansi Lembaga Anti Korupsi (ALAK) menyoroti dugaan praktik permainan dalam layanan penukaran uang baru menjelang Hari Raya yang diduga melibatkan oknum internal Bank Indonesia (BI). Ketua ALAK, Nopiyanto, menyebut praktik tersebut tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berpotensi mencoreng integritas lembaga keuangan negara.

Menurut Nopiyanto, di lapangan saat ini penukaran uang baru yang seharusnya menjadi layanan resmi bagi masyarakat justru diduga diperjualbelikan oleh pihak tertentu dengan tarif tambahan. Ia menduga praktik tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya keterlibatan atau setidaknya pembiaran dari pihak internal.

“Ini sangat memprihatinkan. Program penukaran uang untuk masyarakat justru menjadi ladang bisnis oleh pihak-pihak tertentu. Kami menduga ada oknum di internal BI yang bermain. Jika ini benar, maka ini bentuk pengkhianatan terhadap pelayanan publik,” tegas Nopiyanto saat ditemui di kawasan Sukarame, Bandar Lampung, Minggu (15/3/2026).

ALAK juga menilai persoalan ini menambah daftar dugaan masalah yang sebelumnya pernah disoroti terkait pengelolaan program CSR oleh Bank Indonesia di wilayah Lampung. Menurutnya, hingga kini berbagai dugaan tersebut belum pernah dijelaskan secara transparan kepada publik.

Karena itu, ALAK meminta pimpinan BI pusat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran pimpinan, staf, dan manajemen BI wilayah Provinsi Lampung.

“Kami meminta Direktur BI wilayah Lampung beserta jajaran dievaluasi secara serius. Jika ditemukan adanya keterlibatan atau pembiaran terhadap praktik ini, maka harus segera diganti. Bank Indonesia adalah lembaga negara yang harus menjaga integritas dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Sebagai bentuk sikap dan desakan moral, ALAK bersama organisasi GEDOR juga berencana mendatangi Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Teluk Betung pada Selasa (17/3/2026). Aksi tersebut rencananya akan diikuti ratusan kader dan anggota.

Ketua GEDOR, A Zahriansyah, menegaskan kedatangan mereka bukan sekadar aksi, melainkan bentuk silaturahmi sekaligus penyampaian aspirasi masyarakat terkait dugaan praktik tidak sehat dalam layanan penukaran uang.

“Kami akan datang secara terbuka dengan membawa kader dan anggota untuk bersilaturahmi ke kantor BI di Teluk Betung. Kami ingin menyampaikan langsung keresahan masyarakat terkait dugaan bisnis penukaran uang yang diduga melibatkan orang-orang di internal BI sendiri,” kata Zahriansyah.

Ia menegaskan, apabila dugaan tersebut benar terjadi, maka hal itu merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi karena menyangkut kepentingan masyarakat luas menjelang Hari Raya.

“Jangan sampai kebutuhan masyarakat menjelang Idulfitri justru dimanfaatkan oleh oknum untuk mencari keuntungan pribadi. Kami akan meminta penjelasan langsung dan mendorong adanya pembenahan secara menyeluruh,” tegasnya.

ALAK dan GEDOR berharap Bank Indonesia segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik serta melakukan penertiban terhadap praktik penukaran uang yang diduga diperjualbelikan di lapangan. Menurut mereka, transparansi dan tindakan tegas diperlukan agar kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara tetap terjaga. (*)

Exit mobile version