Puskesmas Labuhan Ratu Hadirkan Inovasi TEMU SAPA TB dengan SI BADAK BULU, Tingkatkan Penemuan Kasus Tuberkulosis

Beritaplus62.co.id – UPT Puskesmas Labuhan Ratu terus berkomitmen mendukung program pemerintah dalam upaya eliminasi Tuberkulosis (TB) melalui berbagai inovasi pelayanan kesehatan. Salah satu inovasi yang kini dijalankan adalah TEMU SAPA TB dengan SI BADAK BULU (Temukan Bersama Pasien TB dengan Aksi Bawa Dahak Bukan Liur), sebuah program yang bertujuan meningkatkan kualitas pemeriksaan dahak sekaligus mempercepat penemuan kasus TB di masyarakat.

Kepala UPT Puskesmas Labuhan Ratu, Ns. Sumiyati, S.Kep, mengatakan bahwa TB masih menjadi salah satu penyakit menular yang memiliki angka kesakitan dan kematian tinggi, baik di dunia maupun di Indonesia,karena itu, diperlukan langkah-langkah inovatif untuk memperkuat upaya deteksi dini dan keberhasilan pengobatan.

“Melalui inovasi TEMU SAPA TB dengan SI BADAK BULU, kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memberikan sampel dahak yang benar untuk pemeriksaan TB,kualitas dahak yang baik sangat menentukan akurasi hasil pemeriksaan dan keberhasilan penemuan kasus,” ujar Sumiyati.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di sektor kesehatan. Indonesia bahkan termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia,sejalan dengan target eliminasi TB tahun 2030, Puskesmas Labuhan Ratu terus memperkuat upaya penemuan kasus secara aktif agar pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan memutus rantai penularan.

Di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Ratu, kasus TB masih menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2019 ditemukan sebanyak 255 penderita TB, dengan 50 kasus di antaranya terdiagnosis langsung di Puskesmas Labuhan Ratu,kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan penemuan kasus terduga TB melalui pemeriksaan yang lebih efektif dan berkualitas.

Berdasarkan hasil evaluasi petugas laboratorium, masih banyak sampel yang dikirim untuk pemeriksaan TB berupa campuran dahak dan air liur,kondisi tersebut menyebabkan hasil pemeriksaan mikroskopis Basil Tahan Asam (BTA) menjadi kurang optimal sehingga dapat memengaruhi rendahnya angka penemuan kasus atau Case Detection Rate (CDR).

Berangkat dari permasalahan tersebut, lahirlah inovasi SI BADAK BULU, yang mengedukasi masyarakat agar memahami perbedaan antara dahak dan air liur serta cara mengeluarkan dahak yang benar untuk pemeriksaan laboratorium,edukasi diberikan melalui penyuluhan, pendampingan pasien, serta sosialisasi kepada keluarga dan masyarakat yang memiliki gejala TB.

Selain meningkatkan kualitas spesimen, inovasi ini juga mendorong masyarakat yang mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, dan berkeringat pada malam hari untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

“Semakin cepat kasus TB ditemukan, semakin besar peluang kesembuhan pasien. Selain itu, penularan kepada orang lain juga dapat dicegah sehingga angka kesakitan dan kematian akibat TB dapat ditekan,” tambah Sumiyati.

Melalui inovasi TEMU SAPA TB dengan SI BADAK BULU, UPT Puskesmas Labuhan Ratu berharap dapat meningkatkan kualitas pemeriksaan TB, mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta mendukung terwujudnya target eliminasi Tuberkulosis di Indonesia,program ini menjadi bukti nyata komitmen Puskesmas Labuhan Ratu dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang inovatif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

(JML)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *