Oleh: Prof. Dr. Hamzah, S.H., M.H. PIA
(Guru Besar Ilmu Hukum FH UNILA & Penasihat Mahasiswa Pancasila – MAPANCAS)
Beritaplus62.co.id – Setiap memasuki bulan Agustus, Indonesia kembali diselimuti atmosfer kemerdekaan. Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia bergulir semarak—dari khidmatnya kibaran Bendera Merah Putih, riuh perlombaan rakyat, hingga hiasan visual yang memadati jalan-jalan utama.
Namun, di balik riak gempita seremonial tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang menuntut kejujuran nurani kita: Sejauh mana nilai-nilai kemerdekaan benar-benar mengejawantah dalam denyut nadi kehidupan sosial kita hari ini?
Di usianya yang ke-81 tahun, NKRI berdiri di tengah arus modernisasi yang serba cepat. Sayangnya, kemajuan ini kerap dibayar mahal dengan tergerusnya semangat kebersamaan. Gaya hidup individualistis dan egosektoral akibat dominasi ruang digital perlahan menggeser nilai-nilai luhur Pancasila. Gotong royong—ruh asli perjuangan bangsa—seolah terancam bergeser menjadi sekadar narasi nostalgia tahunan.
“Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan secara harmonis, saling menopang, dan saling menguatkan.”
Pancasila di Persimpangan Zaman: Dari Sekadar Hafalan Menjadi “Kata Kerja”
Pancasila bukanlah artefak sejarah yang berdebu di lemari arsip, bukan pula slogan kaku dalam pidato resmi. Pancasila adalah living ideology—ideologi hidup yang bertulang belakang pada tindakan nyata.
Fenomena memudarnya social trust (kepercayaan sosial) di era modern ini bukan sekadar ancaman kecil, melainkan sinyal bahaya bagi keutuhan ketahanan nasional.
Jika interaksi warga kian terisolasi di balik layar gawai, maka fondasi kebangsaan kita rentan mengalami keretakan.
Untuk merawat keutuhan NKRI, Pancasila harus diubah dari sekadar kata benda menjadi “kata kerja”. Bentuk pengamalan Pancasila paling konkret tidak selalu teoretis, melainkan hadir melalui:
Kepedulian antar-tetangga tanpa memandang latar belakang SARA.
Kepekaan sosial terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan di sekitar kita.
Kesediaan untuk hadir dan bekerja bersama menjaga ruang publik dan lingkungan.
GOTONG ROYONG & FALSAFAH SANG BUMI RUWA JURAI SEBAGAI MODAL SOSIAL BANGSA
Sebagai masyarakat Lampung, kita diwarisi falsafah agung Sang Bumi Ruwa Jurai—sebuah komitmen kebudayaan yang merangkul keberagaman dalam satu wadah persatuan. History telah membuktikan bahwa gotong royong bukan sekadar etika sosial, melainkan social capital (modal sosial) yang menyelamatkan kita dari berbagai krisis: dari kebencanaan alam hingga dinamika ekonomi.
Dalam skala pembangunan nasional dan lokal, ketahanan NKRI dapat diperkokoh melalui penguatan modal sosial ini:
Ketahanan Sosial-Kemanusiaan: Pengalaman menghadapi krisis membuktikan bahwa empati masyarakat Lampung adalah benteng pertahanan pertama. Solidaritas warga dan kesalingtentuan antar-komunitas adalah daya tahan terbaik bangsa.
Demokrasi Ekonomi Berbasis Kebersamaan:
Mengolaborasikan tradisi gotong royong—seperti koperasi, usaha bersama, dan aksi swadaya—dengan ekosistem teknologi digital modern agar ekonomi kerakyatan tidak tergilas oleh arus kapitalisme kompetitif tanpa batas.
Empat Langkah Konkret Mengisi Kemerdekaan
Memperingati HUT RI ke-81 harus menjadi momentum transformasi aksi, bukan sekadar perayaan yang selesai saat sore 17 Agustus berlalu.
Ada empat agenda aksi berkelanjutan yang perlu dihidupkan kembali di setiap sudut desa dan kota: pertama, Revitalisasi Aksi Lingkungan: Mengaktifkan kembali gerakan kerja bakti warga secara rutin demi menjaga ekologi dan ruang hidup bersama. Kedua, Penguatan Pos Siskamling Kebangsaan: Menjadikan sistem keamanan lingkungan tidak hanya sebagai fungsi jaga, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi dan perajat komunikasi warga.
Ketiga, Taman Baca & Ruang Kreatif Swadaya: Mendorong hadirnya pusat belajar komunitas berbasis gotong royong untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif era digital. Keempat, Lumbung Pangan & Kepedulian Warga: Membangun kemandirian sosial untuk memastikan tidak ada warga di lingkungan kita yang terlupakan atau mengalami krisis dasar.
Dunia Kampus sebagai Laboratorium Moral Pancasila
Sebagai institusi pendidikan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral yang melampaui tembok ruang kelas.
Dunia akademik harus menjadi leading sector dalam mentransfersikan nilai-nilai kebangsaan menjadi aksi nyata.
Kampus masa kini tidak boleh hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara kognitif, tetapi juga harus mencetak generasi yang tangguh secara emosional, peka secara sosial, dan berintegritas tinggi. Akademisi, mahasiswa, dan masyarakat harus melangkah bersama—turun ke desa-desa, membedah persoalan dengan basis keilmuan, serta belajar langsung dari kearifan lokal yang ada.
Penutup: Kemerdekaan Adalah Kebersamaan Ukuran kemajuan suatu bangsa tidak semata-mata dihitung dari megahnya bangunan fisik atau tingginya gedung pencakar langit. Kemajuan sejati Indonesia diukur dari seberapa hangat uluran tangan kita saat sesama jatuh, dan seberapa kokoh bahu kita berdiri bersama saat badai zaman menerpa.
Menyambut usia ke-81 Republik Indonesia, mari kita perbaharui ikrar kebangsaan kita: Menyalakan kembali ruh Pancasila, menghidupkan gotong royong di setiap sudut ruang hidup, dan merawat NKRI dengan aksi nyata sehari-hari.
“Kemerdekaan kita adalah kebersamaan kita,dan kebersamaan kita adalah warisan yang tak ternilai harganya. Jangan pernah biarkan ia padam.”
